+ -

Pages

Membohongi Bahasa Tubuh

Dua orang pedagang menemui seorang hakim yang dikenal sangat bijaksana. Sebuah selendang sutera berada di genggaman mereka. Di depan sang hakim, pedagang yang pertama mengaku bahwa ia lah yang memiliki selendang tersebut. Sedangkan pedagang yang kedua juga mengaku sebagai pemilik selendang itu. Mereka mengaku bahwa ketika berdagang, selendang sutera yang akan mereka jual diterbangkan angin. Ketika sebuah selendang sutera ditemukan, masing-masing mereka mengaku sebagai pemilik selendang sutera sebenarnya.

Mereka menemui sang hakim dengan maksud agar sang hakim yang bijaksana memutuskan pemilik selendang sutera sebenarnya. Di depan sang hakim, mereka bertengkar dan mengeluarkan ciri-ciri selendang sutera yang dimilikinya. Ciri-ciri selendang sutera yang mereka sebutkan sangat cocok dengan selendang sutera tersebut sehingga sulit ditentukan siapa pemilik selendang sebenarnya. Namun hakim yang bijaksana tersebut tidak menghiraukan pertengkaran mereka dan asyik membaca buku di meja kerjanya.

Tidak lama kemudian, hakim yang bijaksana akhirnya selesai membaca dan menutup buku yang ada di tangannya. Sang hakim kemudian menatap mata kedua pedagang tadi. Kemudian dengan lantang ia berteriak: "HEI PENCURI, LEPASKAN SELENDANG ITU".

Maka terlepaslah pegangan salah seorang pedagang ke selendang tersebut. Sang hakim yang bijaksana langsung memutuskan siapa pemilik selendang sutera sebenarnya.

Begitulah, kita bisa saja berbohong, tetapi hati kecil tidak bisa dibohongi. Hati dan tubuh bagaikan sebuah radar. Ketika sebuah benda asing masuk ke dalam jangkauan sebuah radar maka radar akan berbunyi. Begitu juga dengan hati dan tubuh, ketika hati menangkap sinyal ketidakbenaran maka tubuh akan bereaksi dan membentuk bahasa tubuh. Bahasa tubuh ini sangat sulit dibohongi.
5 Blogger Jambi: Membohongi Bahasa Tubuh Dua orang pedagang menemui seorang hakim yang dikenal sangat bijaksana. Sebuah selendang sutera berada di genggaman mereka. Di depan sang ha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >