+ -

Pages

Belajar Mempertahankan Blog

Awalnya judul tulisan ini adalah "belajar membuat blog". Tapi setelah tulisan ini saya baca ulang lagi, ternyata tulisan ini tidak menceritakan tentang cara membuat blog, tetapi lebih mengarah kepada cara mempertahankan blog. Makanya judulnya saya ganti saja menjadi "belajar mempertahankan blog".

Kalau membuat blog, secara teknis sangatlah mudah. Hanya beberapa menit saja, blog bisa dibuat. Kalau mengganti template juga tidak terlalu sulit, tinggal dipilih saja template yang diinginkan, kemudian di-install. Selesai, blog pun akhirnya jadi. Berikutnya adalah mempertahankan blog agar selalu update. Nah, yang terakhir ini yang lebih sulit.

Menurut saya, aktivitas blogging lebih mengarah kita untuk mempertahankan (meng-update) blog. Makanya saya tidak mau fokus pada membuat blog atau mengedit template blog. Blog saya cukup satu ini saja. Saya tidak mau membuat blog yang baru lagi. Saya lebih fokus mempertahankan blog ini. Cara saya mempertahankan blog ini adalah dengan meng-update-nya secara rutin. Meng-update-nya bisa sekali sebulan, sekali seminggu atau dua kali seminggu. Tapi saya lebih suka meng-update-nya setiap hari.

Saya perhatikan, kebanyakan orang hanya bisa membuat blog saja. Selanjutnya mereka tidak bisa mempertahankan blog yang mereka buat tersebut. Setelah membuat blog, mereka biasanya mengedit template-nya, kemudian blog tersebut diisi dengan beberapa buah tulisan. Setelah itu blog tersebut tidak pernah diperhatikannya lagi. Makanya blog mereka tidak pernah bisa update.

Selain itu, masih banyak juga orang yang berpikir bahwa yang paling utama dalam sebuah blog adalah template. Oleh karena itu, mereka sibuk mengutak-atik template blognya. Mereka lupa bahwa blog tersebut juga harus di-update dengan tulisan yang baru. Kebanyakan mereka hanya mengangap bahwa dengan mengedit template blog, berarti mereka telah meng-update blog tersebut.

Keadaan ini sama seperti seorang yang membeli buku tulis. Ia sibuk menghiasi buku tulis tersebut dengan sampul-sampul yang bagus agar orang lain menganggap buku itu adalah buku tulis yang bagus. Dia lupa bahwa dia juga harus menulis di buku tersebut. Tulisan yang dibuat juga harus banyak, kalau bisa sampai buku tulis tersebut penuh. Kalau buku hanya ditulis dua atau tiga halaman saja, menurut saya itu percuma. Soalnya tidak banyak yang bisa dibaca di buku tersebut.

Kalau dilihat tujuannya, buku itu dibeli untuk diisi (ditulis). Penghiasan sampul hanya sampingan, bukan utama. Sama juga dengan blog, tujuan dibuatnya blog adalah untuk diisi. Penghiasan tampilan blog hanya sampingan, bukan utama. Jadi jelaslah bahwa yang utama adalah update blog secara rutin. Template blog bisa diperbaiki sepanjang perjalanan blog tersebut.

Kalau bisa, sebaiknya blog diisi dengan tulisan hasil karya sendiri, bukan ciplakan dari tulisan orang lain. Jika blog diisi dengan tulisan sendiri, maka akan menimbulkan perasaan senang bagi diri sendiri karena kita bisa menulis. Semangat untuk melanjutkan aktivitas menulis pun bisa meningkat. Sekalian kita bisa belajar menulis selama aktivitas blogging tidak berhenti. Jika nanti tulisan hasil karya sendiri telah banyak diterbitkan di blog sendiri, maka rasa senang akan lebih besar lagi. Semangat menulis juga akan semakin besar.

Sama seperti yang saya rasakan sekarang. Jumlah tulisan saya di blog ini sudah 600 lebih. Dulu saya tidak menyangka bisa membuat tulisan sebanyak itu. Tapi setelah di-update secara rutin, lama-kelamaan akhirnya saya bisa mencapai jumlah sebanyak itu. Menurut saya, bukan hal yang tidak mungkin jika nanti jumlah tulisan saya di blog ini bisa mencapai 1.000, 2.000, 3.000 atau lebih. Saya yakin jumlah tersebut akan tercapai. Hanya tinggal menunggu waktu saja.

Kalau tulisan hasil karya sendiri jelek, itu biasa. Saya dulu sering mengalaminya. Sekarang pun masih mengalaminya. Hehe.. Saya yakin, rata-rata orang yang baru belajar menulis juga mengalami hal seperti itu. Jadi itu adalah hal yang biasa. Saya pun tidak ragu dan tetap melanjutkan aktivitas menulis. Saya yakin, kalau sering menulis, maka tulisan kita akan semakin membaik.

Jangan ragu juga jika nanti tulisan kita diejek oleh orang lain. Kalau ada yang mengejek, berarti yang mengejek tersebut bukanlah seorang penulis dan pastinya dia tidak bisa menulis. Seorang penulis yang telah berpengalaman tidak akan pernah mengejek tulisan kita, malahan dia akan membantu kita dalam belajar menulis. Soalnya dia menganggap itu adalah hal yang biasa karena dia dulu juga sama seperti kita sekarang yang belum bisa menulis. Dia berharap agar kita juga bisa menulis sama seperti dia.

Kalau ditanya apakah saya malu jika tulisan saya dibaca oleh orang lain. Saya jawab, ya. Apalagi jika yang dibaca oleh orang lain tersebut adalah tulisan saya yang jelek dan tata bahasanya masih berantakan. Saya sangat malu sekali. Makanya saya tidak pernah memberi tahu blog saya ini kepada orang lain agar tidak ada yang membacanya. Hehe.. Saya hanya memberitahunya kepada beberapa orang saja yang sudah dekat dengan saya.

Tapi, sepertinya sekarang saya sudah tidak lagi merasa malu. Kalau ada yang mau membaca atau pun mengejek tulisan saya, silakan... :)
5 Blogger Jambi: Belajar Mempertahankan Blog Awalnya judul tulisan ini adalah "belajar membuat blog" . Tapi setelah tulisan ini saya baca ulang lagi, ternyata tulisan ini tida...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >