+ -

Pages

Dilema Si Kulit Hitam

Akhir-akhir ini, saya bersama teman-teman sering mengobrol masalah kulit warna hitam dan kulit warna putih. Dari obrolan kami, kami merasakan bahwa kulit putih lebih baik dari kulit hitam soalnya banyak orang yang ingin memiliki kulit berwarna putih. Apakah benar demikian?

Dari sebuah penelitian di Amerika yang pernah saya baca, satu boneka anak-anak berkulit hitam dan satu boneka anak-anak berkulit putih ditunjukkan kepada anak-anak berkulit hitam yang berumur 5 tahun. Kemudian ditanyakan kepada mereka, yang mana boneka yang mirip dengan mereka. Hasilnya, kebanyakan dari mereka memilih boneka anak-anak berkulit putih. Nah lho, kok bisa begini?

Saya juga tidak tahu, entah mengapa kita selalu menganggap warna putih adalah warna yang lebih baik dari warna hitam sehingga kita lebih banyak menginginkan untuk bisa memiliki kulit berwarna putih sama seperti yang dipilih oleh anak-anak pada penelitian tersebut. Apakah itu sudah tertanam dari budaya kita atau Tuhan telah menciptakannya demikian, saya juga tidak tahu.

Sering kita menganggap bahwa jika suatu bidang berwarna putih terdapat setitik warna hitam, maka warna hitam tersebut adalah setitik noda. Dan jika suatu bidang berwarna hitam terdapat setitik warna putih, kita menganggap bahwa ada sebuah titik cerah di sana. Warna putih sering dianggap suci dan bersih. Sedangkan warna hitam adalah sebaliknya.

Anggapan ini tidak jauh bedanya dengan warna kulit manusia. Sering manusia menggagap bahwa si kulit putih lebih bersih dan lebih suci. Sehingga si kulit putih akhirnya menjadi ras terbaik dan harus ditinggikan. Akibatnya timbullah masalah perbudakan terhadap si kulit hitam dan masalah rasisme lainnya.

Kalau menurut saya, masalah warna hitam dan warna putih hanyalah masalah persepsi kita saja. Perbedaan timbul diawali karena adanya cahaya. Cahaya itu berwarna putih. Tujuan cahaya adalah menerangi, sehingga warna putih dianggap warna yang terang dan cerah. Warna yang terang dan cerah selalu diharapkan kehadirannya. Sedangkan tidak ada cahaya dianggap kegelapan karena kita tidak bisa berbuat apa-apa ketika keadaan gelap. Keadaan gelap adalah berwarna hitam. Keadaan gelap dan hitam tidak diharapkan.

Kondisi ini merembes ke kondisi lainnya, yaitu warna putih adalah warna yang diharapkan sedangkan warna hitam tidak diharapkan. Warna putih dianggap bersih dan suci, sedangkan hitam adalah nodanya. Perbedaan penilaian terhadap warna hitam dan putih ini adalah masalah persepsi saja. Jadi tidak layaklah kita menilai warna kulit putih lebih baik dari kulit hitam. Syukuri saja apa yang kita miliki sekarang ini karena tidak benar jika adanya anggapan bahwa kebersihan, kesucian dan kecerahan manusia bersumber dari warna kulit.

Menurut saya manusia memiliki cahaya. Cahaya tersebut bukan berasal dari kulit manusia. Sumber cahaya adalah hati manusia. Jika cahaya itu bercahaya terang, yang akan terang dan cerah bukanlah kulit manusia. Jika hati bercahaya dan bersinar cerah, maka kecerahan akan timbul pada raut wajah manusia. Kecerahan akan tampak walaupun kulit wajah berwarna hitam sekalipun. Sebaliknya jika cahaya hati redup atau gelap maka kegelapan akan timbul di raut wajah manusia. Kegelapan akan tetap terjadi walaupun kulit wajah manusia tersebut berwarna putih sekalipun. Jadi keindahan sebenarnya bukan dari warna kulit, tapi kebersihan, keindahan dan kesucian dimulai dari hati manusia. Dan dari hati manusia juga dimulainya keindahan tutur kata dan prilaku.

Perlu kita renungi bahwa Tuhan tidak akan menilai kita dari warna kulit. Tuhan akan menilai dari hati yang kita miliki. Tubuh dimana tempat kulit ini melekat suatu saat akan kita tinggalkan ketika terjadi peristiwa terpisahnya jasad dan roh. Jasad, dengan warna kulit apa pun itu, akan kembali ke tanah dan menjadi tanah. Sedangkan roh akan tetap hidup dengan cahaya yang dimilikinya. Oleh karena itulah kebaikan, kesopanan, tutur kata dan prilaku yang baik yang bersumber dari hati adalah yang paling utama. Sedangkan warna kulit tidak penting, karena sudah tidak ada lagi dan kehadirannya hanya sesaat. Jadi buat apa membanggakan hal-hal yang sesaat yang kita miliki karena pasti suatu saat nanti akan kita lepaskan.
5 Blogger Jambi: Dilema Si Kulit Hitam Akhir-akhir ini, saya bersama teman-teman sering mengobrol masalah kulit warna hitam dan kulit warna putih. Dari obrolan kami, kami merasaka...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >