+ -

Pages

Relativitas Penilaian

Penilaian yang didasari pemikiran dan perasaan selalu bersifat relatif. Beda otak beda hati maka akan beda pula pemikiran dan perasaan terhadap penilaian sebuah persoalan. Oleh karena itu, permasalahan baru sering muncul ketika penilaian terhadap sebuah persoalan oleh setiap orang yang berkepentingan di dalamnya berbeda-beda.

Pada sebuah sekolah, angka 6 bisa saja dianggap sebagai batas nilai baik. Pada sekolah yang lain, nilai baik dibatasi pada angka 7 atau 8. Masing-masing sekolah telah membedakan batas nilai baik tersebut dengan persepsi sekolahnya masing-masing. Jadi walaupun angkanya berbeda-beda, namun bisa saja ditemukan bahwa ternyata angka 6, 7 dan 8 adalah nilai yang sama.

Ketika seorang yang berasal dari sebuah desa mempunyai nilai tertinggi di desanya, orang-orang desa menilai bahwa dia akan sukses melanjutkan pendidikannya di kota. Ketika ia sampai di kota, ternyata penilaian orang-orang desanya salah. Dia kalah bersaing karena ternyata lebih banyak orang yang memiliki nilai lebih baik daripada nilai yang ia peroleh, walaupun angkanya sama. Semua angka 8 yang ia peroleh dari sekolah di desanya ternyata adalah angka 6 ketika ia memasuki kota.

Bisa saja seseorang menganggap bahwa membuang sampah pada tempatnya adalah tindakan yang wajib dilakukan. Namun orang lain bisa juga menganggap bahwa membuang sampah tidak pada tempatnya adalah sebuah hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang salah menurutnya. Ini tergantung dari persepsi mereka masing-masing. Masing-masing mereka menganggap bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah tindakan yang benar.

Seseorang bisa saja menganggap bahwa mengambil hak milik orang lain adalah perbuatan yang haram walaupun ia hanya mengambil satu buah jeruk milik tetangga yang jatuh di halaman rumahnya tanpa memberi tahu tetangganya itu. Namun bisa saja bagi yang lain mengambil hak milik orang lain adalah hal yang biasa saja walaupun ia mengambil barang-barang yang jauh lebih berharga daripada satu buah jeruk.

Setiap kita adalah manusia yang unik. Pandangan kita terhadap berbagai persoalan berbeda-beda. Oleh karena itu, kita tidak bisa melakukan penilaian menggunakan persepsi kita sendiri-sendiri agar tidak terjadi perselisihan di antara kita. Yang kita butuhkan adalah standar yang benar dari nilai-nilai kebenaran.

Kita diberi hati dan otak. Dengan otak dan hati kita diberi kemampuan berpikir dan merasa. Namun kemampuan itu tidak cukup untuk melakukan penilaian terhadap berbagai persoalan. Kita butuh kitab sebagai pedoman dalam menyelaraskan kehidupan bersama. Kita harus memiliki konsep dan definisi yang sama terhadap penilaian persoalan. Dengan begitu berbagai permasalahan yang timbul akibat penilaian yang hanya didasari oleh pemikiran dan perasaan bisa dihindari.

Kadang kita ini terlalu egois. Kita terlalu sering membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar. Kita tidak mendasari penilaian dengan menggunakan pedoman yang telah diberikan. Karena keinginan dan nafsu, kita sering menerobos batas-batas nilai yang benar.

Misalnya saja ketika sepasang laki-laki dan perempuan berpacaran sebelum menikah. Mereka sudah menganggap bahwa mereka telah saling memiliki. Padahal sepasang anak manusia dianggap telah saling memiliki ketika mereka telah berada pada pernikahan yang sah. Kita sering melanggar batas-batas itu. Ketika nanti mereka telah saling memiliki pun, salah satu dari mereka tidak boleh mengekang yang lainnya. Setiap mereka tetap memiliki kebebasan jiwa dengan batasan-batasan yang indah.
5 Blogger Jambi: Relativitas Penilaian Penilaian yang didasari pemikiran dan perasaan selalu bersifat relatif. Beda otak beda hati maka akan beda pula pemikiran dan perasaan terha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >