+ -

Pages

Paradoks Berkah Si Pemberi dan Si Penerima

Kehidupan ini penuh dengan kabut dan paradoks. Oleh karena itu kita tidak bisa hanya mengandalkan kedua mata yang ada di kepala untuk melihat kehidupan di dunia ini. Kita juga harus menggunakan mata hati sebagai indera penglihatan yang paling tajam.

Mata hati sanggup menembus kabut tebal dan melihat paradoks kehidupan ini. Andaikan kita memberikan Seribu Rupiah kepada orang yang meminta-minta, maka kita bisa saja bersikap sombong jika kita hanya melihat situasi ini dengan kedua mata yang ada di kepala. Tapi kita tidak punya hak untuk sombong jika kita telah melihatnya dengan mata hati.

Jika kita melihat situasi ini menggunakan mata hati, maka kita seharusnya berterima kasih kepada si peminta karena dengan menolongnya berarti kita telah menolong diri kita sendiri. Dari uang seribu rupiah yang telah kita berikan tadi, bukan dia sebagai si penerima yang akan mendapatkan berkahnya, tetapi kita sebagai si pemberi. Hal semacam inilah yang tidak mampu dilihat oleh kedua mata yang ada di kepala.

(Posting ini diterbitkan menggunakan WordPress for Blackberry versi 1.6.1)
5 Blogger Jambi: Paradoks Berkah Si Pemberi dan Si Penerima Kehidupan ini penuh dengan kabut dan paradoks. Oleh karena itu kita tidak bisa hanya mengandalkan kedua mata yang ada di kepala untuk meliha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >