+ -

Pages

Hari Kedua (Terakhir) Pelatihan ESQ

Pelatihan ESQ dua hari kemarin memberikan petunjuk kepada saya tentang siapa kita dan mau kemana kita. Kemudian memberikan arahan bagaimana cara kita merasakan adanya suara hati yang ada di dalam dada. Juga memberikan arahan bagaimana caranya membedakan antara emosi dan suara hati. Kita harus mampu membedakan keduanya sebab akan berbahaya bila keduanya tertukar.

Dalam menjalani kehidupan ini, kita harus melatih diri dalam mendengarkan dan mengikuti suara hati. Suara hati sering tidak terdengar karena tertutupi oleh belenggu-belenggu pikiran. Ada tujuh belenggu pikiran yang sering menutupi suara hati, yaitu prasangka, prinsip hidup, pengalaman, kepentingan, sudut pandang, pembanding dan fanatisme. Agar terlepas dari belenggu-belenggu tersebut, kita harus melakukan proses penjernihan pikiran (Zero Mind Process).

Jika hati sudah lepas dari belenggu, maka kita akan mampu mendengar suara hati dengan jelas. Selanjutnya, berawal dari hati yang bersih dan suci, kita dapat membangun suatu kecerdasan emosi dan spritual berdasarkan 6 prinsip dan 5 langkah (6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam).

Di akhir pelatihan, instruktur menegaskan bahwa pelatihan kami selama dua hari kemarin bukanlah pelatihan yang sesungguhnya. Pelatihan yang sesungguhnya adalah pelatihan setelah kami keluar dari pelatihan itu, yakni pelatihan ketika menjalani kehidupan nyata ini. Pelatihan tersebut merupakan pelatihan seumur hidup apakah kita mampu bertahan dalam mensucikan hati agar selalu fitrah atau tidak.

Demi matahari dan sinarnya di pagi hari
Demi bulan apabila ia mengiringi
Demi siang hari apabila menampakkan dirinya
Demi malam apabila menutupi
Demi langit beserta seluruh binaannya
Demi bumi serta yang ada di hamparannya
Demi jiwa dan penyempurnaannya

Allah mengilhami sukma kefasikan dan ketakwaan
Beruntunglah bagi yang mensucikannya
Merugilah bagi yang mengotorinya


Dalam pelatihan kemarin, motivasi hidup kami meningkat karena ada instruktur yang mengarahkan. Namun setelah keluar dari pelatihan itu, tidak ada lagi yang membimbing dan mengarahkan. Yang dihadapi adalah dunia yang penuh dengan rintangan dan godaan. Jadi dalam menjalaninya, kita harus pintar dalam memberikan motivasi kepada diri sendiri. Kita harus mandiri karena kita tidak mungkin terus-menerus mengikuti pelatihan ESQ untuk mendapatkan motivasi.

Kata Ary Ginanjar Agustian, pelatihan itu ibarat air pelepas dahaga di tengah padang pasir yang tandus, selalu diharapkan dan ditunggu-tunggu. Sangat menyedihkan apabila untuk mendapatkan setetes air tersebut seseorang harus menunggu motivasi dari orang lain.
5 Blogger Jambi: Hari Kedua (Terakhir) Pelatihan ESQ Pelatihan ESQ dua hari kemarin memberikan petunjuk kepada saya tentang siapa kita dan mau kemana kita. Kemudian memberikan arahan bagaimana ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >